“Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya” (Ali bin Abi Thalib)
Sudah 18 tahun saya tidak lagi “belajar” dalam arti belajar secara serius atau menimba ilmu secara mendalam. Saya yakin pasti banyak juga teman-teman lain yang setelah selesai kuliah, lalu bekerja atau berbisnis, sudah “tersedot” waktu dan energinya, dan tak pernah lagi “belajar”. Alasan apapun yang dikemukakan saya percaya, itu benar. Saya juga selalu saja bisa menemukan alasan-alasan yang “membenarkan” sikap itu.
Pertanyaan yang paling penting memang, “Buat apa sekolah lagi? Bukankah sudah cukup kita belajar dari buku-buku yang kini tersebar dimana-mana? Apapun bidang yang ingin kita pelajari, ada bukunya. Lagi pula belajar dalam bidang profesi atau usaha yang sedang digeluti toh masih tetap dilakukan, baik lewat seminar-seminar atau belajar sendiri.”
Oke lah itu memang sudah kita lakukan. Tapi, yang saya maksud justru belajar dalam arti yang lebih terstruktur, mendalam, melepaskan dahaga kita akan ilmu. Seperti dulu kita sekolah atau kuliah sampai bertahun-tahun lamanya.
Bedanya, dulu saya kuliah kurang termotivasi. Saya lebih peduli dengan nilai dan target-target prestasi lainnya. Karena itu saya lebih banyak belajar cara SKS aja. Sistem Kebut Semalam. Besok mau ujian, sekarang sampai subuh baru belajar mati-matian.
Akibatnya tak banyak “ilmu” yang saya peroleh, kecuali hanya kulit-kulitnya aja. Tapi saya juga tidak peduli. Bahkan mungkin sebagian besar pelajaran yang saya peroleh dulu waktu sekolah atau kuliah, sekarang sudah hilang semua.
Tetapi akhir-akhir ini, saya sering sekali gelisah. Ada “jeritan batin” yang senantiasa mengganggu. Ketika mencoba merenungkan kembali makna-makna hidup yang dijalani, rasanya banyak sekali waktu yang terbuang percuma. Setiap hari, kita sibuk terus dengan urusan-urusan sesuap nasi pengisi perut.
Padahal tubuh kita ini ‘kan ada tiga: perut, otak, dan hati. Tiga-tiganya juga perlu “makan”. Makanan perut, oke lah itu sudah kita lakukan setiap hari. Tetapi makanan otak, apa? Makanan hati, apa? Apakah kelaparan dan kehausan otak dan hati kita ini tidak pernah kita “peduli”? Read the rest of this entry »